
Dokumentasi tambak ikan terdampak bencana di Sumatra. (ANTARA/HO-Kemendagri)
Jakarta, InfoPublik - Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, mengakselerasi pemulihan sektor perikanan budidaya dengan merehabilitasi 31.248,94 hektare lahan tambak dan 2.053 unit keramba yang terdampak bencana di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatra Barat.
Berdasarkan data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Provinsi Aceh mencatatkan kerusakan lahan tambak terluas mencapai 30.417,17 hektare.
Sementara itu, Sumatra Utara mencatatkan kerusakan seluas 575,27 hektare, disusul Sumatra Barat seluas 255,90 hektare.
Kerusakan sarana pendukung lainnya juga menyasar 2.053 unit keramba, dengan sebaran terbanyak di Aceh (1.953 unit), Sumatra Barat (60 unit), dan Sumatra Utara (40 unit).
Ketua Satgas PRR, Muhammad Tito Karnavian menegaskan, revitalisasi tambak telah masuk dalam agenda prioritas pemulihan nasional.
Pemerintah memberikan perhatian khusus pada komoditas unggulan yang menjadi sumber pendapatan utama warga setempat. "Tambak ada yang terdampak, seperti udang dan bandeng, terutama di wilayah pesisir Aceh. Saat ini sedang didata oleh Menteri KKP dan setelah Lebaran akan ditinjau langsung untuk percepatan penanganannya," ujar Tito Karnavian dalam keterangan resmi, Senin (30/03/2026).
Kasatgas PRR yang juga Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian menyatakan, proses pemulihan tidak hanya terbatas pada perbaikan infrastruktur fisik lahan yang rusak akibat bencana. Pemerintah berkomitmen memastikan seluruh rantai produksi dan distribusi ekonomi masyarakat kembali berfungsi normal.
Fokus rehabilitasi pada sektor perikanan budidaya ini dinilai krusial karena merupakan tulang punggung ekonomi wilayah pesisir Sumatra.
Melalui sinergi antar-lembaga, Satgas PRR Pascabencana Sumatera menargetkan aktivitas budidaya tambak dan keramba dapat segera beroperasi kembali untuk menjaga ketahanan pangan dan kesejahteraan petambak di wilayah terdampak bencana. (*)








