Proses distribusi bantuan logistik di Pos Pendukung Logistik Nasional Halim Perdanakusuma Jakarta untuk masyarakat terdampak Gempa Nusa Tenggara Timur melalui jalur udara via Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta (17/8/2026). (Dok. BNPB).
Jakarta, InfoPublik - Memasuki hari ketiga pascagempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 pada Senin (17/8/2026), tim pencarian dan pertolongan (SAR) masih melakukan penyisiran di sejumlah wilayah terdampak. Lebih dari 60 warga dilaporkan meninggal dunia akibat bencana tersebut.
Operasi pencarian dan pertolongan dikoordinasikan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) dengan melibatkan ribuan personel gabungan. Kekuatan tersebut terdiri atas 63 personel Basarnas dan 1.799 organisasi/relawan SAR.
"Pada hari ketiga pascagempa, Basarnas tidak lagi menerima laporan mengenai warga hilang di wilayah terdampak. Meski demikian, personel tetap dikerahkan secara optimal, khususnya di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur, untuk memastikan tidak ada warga yang membutuhkan pertolongan terlewatkan," kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan dalam keterangannya, Selasa (18/8/2026).
Selain operasi pencarian dan pertolongan, pelayanan medis darurat terus dilakukan sejak gempa terjadi pada Sabtu (15/8/2026). Pos komando akan mengoperasikan rumah sakit lapangan untuk memberikan pelayanan kepada korban gempa maupun masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan.
Dua rumah sakit lapangan telah dikirim ke Kabupaten Manggarai dan Nagekeo. Fasilitas tersebut disiapkan untuk memberikan pelayanan kesehatan setelah sejumlah rumah sakit, puskesmas, dan fasilitas kesehatan lainnya mengalami kerusakan akibat guncangan gempa.
Operasional rumah sakit lapangan akan didukung tim Emergency Medical Team (EMT) dari Kementerian Kesehatan.
Sebelumnya, pada Minggu (16/8/2026), Kementerian Kesehatan melalui Pusat Krisis mengaktifkan Health Emergency Operation Center (HEOC) di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota di wilayah terdampak bencana. Aktivasi tersebut dilakukan di sejumlah lokasi strategis untuk memperkuat koordinasi penanganan darurat kesehatan.
Dalam pelayanan kesehatan darurat, Kementerian Kesehatan juga memobilisasi dua tim manajemen krisis kesehatan yang masing-masing ditugaskan ke Kabupaten Sikka dan Ende.
Selain itu, dua tim EMT diterjunkan untuk memberikan pelayanan. Satu tim mencakup Kabupaten Ende, Nagekeo, dan Manggarai Barat, sedangkan tim lainnya melayani Kabupaten Sikka.
Dukungan kesehatan juga diperkuat dengan pengiriman obat-obatan, bahan medis habis pakai, emergency kit, tenda pos kesehatan, konsentrator oksigen, dan perlengkapan medis lainnya. Pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak turut mendapat dukungan personel TNI dan Polri.
Dampak Kerusakan
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di wilayah terdampak terus memutakhirkan data kerusakan bangunan, khususnya rumah warga.
Di Kabupaten Nagekeo, tercatat 116 unit rumah rusak berat (RB), enam unit rusak sedang (RS), dan 42 unit rusak ringan (RR).
Di Kabupaten Ende, kerusakan meliputi 108 unit rumah RB, 85 unit rumah RS, dan 268 unit rumah RR.
Kabupaten Manggarai mencatat 761 unit rumah RB, 76 unit rumah RS, dan 147 unit rumah RR.
Sementara itu, di Kabupaten Manggarai Timur terdapat 23 unit rumah RB, 15 unit rumah RS, dan 11 unit rumah RR. Kabupaten Manggarai Barat mencatat 481 unit rumah RB, 202 unit rumah RS, dan 231 unit rumah RR.
Di Kabupaten Ngada, total kerusakan mencapai 1.796 unit rumah. BPBD masih melakukan pendataan dan verifikasi untuk memastikan tingkat kerusakan tersebut.
Adapun di Kabupaten Sikka, jumlah rumah terdampak terdiri atas 145 unit rumah RB, 16 unit rumah RS, dan 12 unit rumah RR.
Selain rumah warga, guncangan gempa juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah fasilitas umum, antara lain tempat ibadah, fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, perkantoran, serta akses jalan.
Hingga Senin (17/8/2026), Pos Pendamping Nasional mencatat sebanyak 1.576 kali gempa susulan dengan magnitudo terbesar mencapai M6,2. Sementara itu, BMKG mencatat 54 gempa susulan yang dirasakan masyarakat.
Aktivitas gempa masih fluktuatif dan pola peluruhan belum terlihat jelas. Kondisi tersebut diperkirakan mulai lebih stabil dalam dua hingga tiga minggu ke depan.








