Pekerja melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (27/7/2026). IHSG pada perdagangan Senin (27/7) pagi dibuka melemah 10,63 poin atau 0,17 persen ke posisi 6.185,80, dibandingkan dengan penutupan perdagangan Jumat (24/7) yang berada di level 6.196,43. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj.
Jakarta, InfoPublik – Tekanan inflasi yang mulai mereda pada Juli 2026 memberi ruang bagi pemulihan ekonomi domestik. Namun, tantangan Indonesia pada paruh kedua tahun ini bergeser dari sekadar mengendalikan harga menjadi menjaga stabilitas eksternal, terutama melalui keberlanjutan arus masuk modal asing di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Data terbaru menunjukkan inflasi tahunan turun menjadi 2,88 persen pada Juli 2026 dari 3,34 persen pada bulan sebelumnya. Penurunan tersebut didorong normalisasi harga sejumlah komoditas pangan, seperti bawang merah dan cabai. Pada saat yang sama, sektor manufaktur kembali memasuki fase ekspansi dengan Purchasing Managers' Index (PMI) sebesar 50,2, menandakan mulai pulihnya aktivitas produksi dan permintaan domestik.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai membaiknya inflasi dan manufaktur merupakan sinyal positif bagi perekonomian nasional. Namun, menurutnya, risiko terhadap stabilitas eksternal masih perlu menjadi perhatian utama pemerintah dan pelaku pasar.
"Tantangan terbesar Indonesia pada semester II 2026 bukan lagi semata-mata inflasi, melainkan menjaga stabilitas eksternal di tengah melemahnya surplus perdagangan dan meningkatnya ketidakpastian global," ujar Fakhrul, dalam keterangannya, Selasa (4/8/2026).
Ia menjelaskan, neraca perdagangan Indonesia telah mencatat defisit selama dua bulan berturut-turut pada Mei dan Juni 2026. Kondisi tersebut diperkirakan mendorong defisit transaksi berjalan kuartal II 2026 mencapai sekitar US$7,7 miliar atau setara 2,1 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Sementara itu, Balance of Payments (BoP) diproyeksikan masih mengalami defisit sekitar US$2,6 miliar.
Situasi tersebut menunjukkan pembiayaan eksternal tetap menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Karena itu, Fakhrul memperkirakan Indonesia masih membutuhkan arus masuk modal asing sekitar US$11 miliar ke pasar obligasi pemerintah sepanjang semester II 2026 agar keseimbangan eksternal tetap terjaga.
"Dalam kondisi saat ini, menjaga capital inflow menjadi prioritas. Indonesia masih membutuhkan sekitar US$11 miliar tambahan investasi portofolio pada semester kedua tahun ini agar keseimbangan eksternal tetap terjaga dan volatilitas rupiah dapat diminimalkan. Oleh karena itu, menjaga kepercayaan investor global harus menjadi bagian penting dari strategi kebijakan ekonomi," katanya.
Menurut Fakhrul, upaya mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik menjadi semakin penting karena persaingan memperebutkan arus modal global diperkirakan semakin ketat. Hal itu dipengaruhi potensi perubahan arah kebijakan moneter Amerika Serikat apabila tekanan inflasi di negara tersebut kembali meningkat.
"Risiko terbesar berasal dari arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Apabila The Fed kembali menaikkan suku bunga atau mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari ekspektasi pasar, maka persaingan memperebutkan arus modal global akan semakin ketat. Dalam situasi seperti itu, negara berkembang termasuk Indonesia harus mampu menjaga kredibilitas fiskal, stabilitas moneter, serta daya tarik pasar obligasi domestik," jelasnya.
Meski demikian, Fakhrul menilai fundamental ekonomi Indonesia masih memberikan ruang optimisme. Meredanya tekanan harga pangan, membaiknya aktivitas manufaktur, dan meningkatnya kepercayaan pelaku usaha dinilai menjadi modal penting untuk menopang pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua 2026.
Ia menegaskan, semester II 2026 akan menjadi periode krusial untuk menjaga keseimbangan antara pemulihan ekonomi domestik dan stabilitas sektor eksternal. "Di satu sisi kita mulai melihat pemulihan aktivitas ekonomi domestik, tetapi di sisi lain kita harus memastikan Indonesia tetap menjadi tujuan investasi portofolio yang kompetitif di tengah ketidakpastian global. Stabilitas nilai tukar rupiah pada akhirnya akan sangat ditentukan oleh kemampuan kita menjaga kepercayaan investor, baik melalui koordinasi kebijakan fiskal dan moneter maupun komunikasi kebijakan yang konsisten," pungkasnya.








